Mengapa orang licik sering berkuasa, sementara orang jujur dan kompeten justru tersingkir?
Sejak kecil kita diajarkan kebaikan akan menang dan ketulusan akan dibalas kepercayaan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa dunia tidak selalu berjalan demikian. Dalam dunia politik, atau bahkan kehidupan sehari-hari, kemenangan sering kali bukan milik mereka yang paling benar, melainkan mereka yang paling memahami cara kekuasaan bekerja.
Buku ini mengajak pembaca menelusuri 28 strategi untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Strategi-strategi tersebut dirangkum dari kisah-kisah paling menarik era Tiga Kerajaan, salah satu periode paling penuh intrik dalam sejarah Tiongkok.
Melalui kisah-kisah tersebut, pembaca akan mempelajari cara membangun pengaruh, membaca ambisi manusia, mengelola aliansi, menghadapi pengkhianatan, memanfaatkan peluang, serta bertahan dalam permainan kekuasaan yang sering kali tidak berjalan sesuai idealisme.
Buku ini bukan ajakan untuk menjadi licik atau meninggalkan moralitas. Sebaliknya, buku ini membantu pembaca memahami bagaimana kekuasaan sesungguhnya bekerja agar tidak mudah dimanfaatkan oleh mereka yang lebih paham. Sebab, untuk menghadapi tipu daya, kita perlu mengenalinya.
Lebih dari 1.800 tahun telah berlalu sejak era Tiga Kerajaan berakhir. Namun, ambisi, kepentingan, persaingan, dan perebutan pengaruh masih menjadi bagian dari kehidupan manusia hingga hari ini. Zaman berubah, tetapi sifat manusia tetap sama. Karena itulah, pelajaran dari Tiga Kerajaan masih relevan untuk dipelajari hingga sekarang.






Ulasan
Belum ada ulasan.